Selasa, 18 Agustus 2009

HIPERAKTIF


Tanda-tanda berikut muncul pada anak yang hiperaktif, yaitu :
  • Gerakan fisik berlebihan
  • Tubuh selalu bergerak, berpindah ke sana-sini.
  • Sulit duduk dengan tenang.
  • Aktivitas yang dilakukan tidak tepat, tidak bertujuan, dan tidak produktif.
  • Gagal menyelesaikan tugas-tugas, walaupun banyak aktivitas yang dilakukan

Sebelum memutuskan bahwa anak mengalami masalah perilaku ini, orangtua perlu melihat dengan lebih seksama, apakah perilaku anak yang sangat aktif itu dilakukan dengan tujuan tertentu atau sesuai dengan kehendak anak. Bila aktivitas-aktivitas yang dilakukan anak itu mempunyai suatu tujuan dan produktif, maka anak tersebut tidak bisa digolongkan sebagai anak hiperaktif. Anak-anak, terutama saat menginjak usia 2-3 tahun, sangat suka melakukan eksplorasi. Mereka dipenuhi oleh rasa ingin tahu yang besar, sehingga banyak melakukan aktivitas untuk mencoba berbagai hal. Pada anak-anak yang sangat pintar, biasanya tingkat aktivitas juga tinggi. Mereka mempunyai minat yang besar untuk mempelajari lingkungannya.


Faktor Penyebab

Hiperaktif disebabkan oleh :
- Gangguan neurologis karena disfungsi kecil otak. (Gejala hiperaktif juga sering menyertai gangguan autisme dan epilepsi).
- Faktor keturunan
- Temperamen atau sifat bawaan
- Pengaruh lingkungan yang memberikan stimulus kurang tepat. Lingkungan yang memberikan stimulus berlebihan kepada anak bisa menyebabkan anak menjadi hiperaktif, misalnya lingkungan yang bising, suasana rumah yang sering diwarnai oleh pertengkaran antara kedua orangtua, atau keadaan rumah yang berantakan. Orangtua yang suka berpindah aktivitas tanpa menyelesaikan aktivitas satu per satu juga bisa memberikan model buruk kepada anak, sehingga anak kemudian menirunya.

Untuk memastikan faktor penyebab hiperaktif, orangtua bisa meminta bantuan dokter yaitu melalui tes medis, dan psikolog.


Langkah untuk Mengatasi
Orangtua perlu memahami bahwa anak-anak yang menderita hiperaktivitas karena gangguan neurologis, mengalami kesulitan untuk mengendalikan diri mereka sendiri. Mereka menjadi hiperaktif bukan karena kesengajaan mereka, melainkan karena ketidakmampuan fisik diri mereka. Mereka sendiri menderita karena merasa tidak berdaya mengendalikan diri mereka, mereka ingin bisa duduk diam seperti yang diharapkan, mengikuti instruksi, dan menyelesaikan tugas-tugas, namun kenyataannya mereka gagal dan hanya membuat orang lain marah.

Mengasuh seorang anak hiperaktif memang sangat menguras tenaga. Wajar jika orangtua sering merasa frustrasi karenanya. Sekalipun demikian, ada hal yang bisa dilakukan orangtua untuk mengurangi gejala hiperaktivitas. Hiperaktivitas yang tertangani dengan baik tidak akan menghalangi anak untuk meraih keberhasilan seperti halnya orang-orang lain. Jadi, tak ada alasan untuk berputus asa. Jaga sikap optimis, dan percaya bahwa anak bisa menjadi lebih baik, bisa belajar, bisa berkembang menjadi lebih dewasa, dan tentu saja bisa sukses. Selangkah demi selangkah, orangtua bisa mengajari anak bagaimana mengendalikan diri.


Mengajarkan perilaku yang tepat dan memberikan penguatan atas perilaku tepat yang ditunjukkan oleh anak
Tanpa marah, orangtua sebaiknya mendeskripsikan secara jelas perilaku seperti apa yang diharapkan. Selanjutnya, orangtua memperhatikan perilaku anak dan siap untuk memberikan pujian begitu anak melakukan perilaku yang diharapkan. Perhatian dan pujian yang diberikan orangtua, sangat besar pengaruhnya dalam memotivasi anak untuk berusaha semakin memperbaiki perilakunya. Yang perlu diperhatikan adalah orangtua perlu menunjukkan penghargaan terhadap sekecil apapun kemajuan yang dicapai oleh anak, dan tidak pernah meremehkan usaha anak. Duduk di kursi selama 2 menit, bagi anak yang hiperaktif mungkin merupakan suatu hal yang membutuhkan perjuangan, oleh karenanya, orangtua bisa memberikan pujian, misalnya dengan berkata, “Kamu sungguh-sungguh telah berjuang untuk tetap duduk tenang.”
Orangtua bisa juga mengadakan perjanjian semacam kontrak dengan anak untuk memberikan suatu hadiah bila anak berhasil mencapai perilaku yang diharapkan. Perilaku yang diharapkan orangtua bisa ditulis dalam sebuah tabel, kemudian orangtua memberikan tanda centang setiap kali anak melakukan perilaku tersebut. Di akhir waktu yang ditentukan, jika target mampu dicapai oleh anak, maka orangtua memberinya hadiah sesuai kesepakatan awal.

Menyediakan struktur
Anak hiperaktif akan lebih merasa nyaman jika ada struktur. Orangtua bisa menyediakan struktur ini dengan cara memberitahukan perilaku yang diharapkan, dan tetap tegas dalam menjaga batasan. Jika orangtua konsisten, anak tidak mengalami kebingungan, sehingga merasa lebih aman dan tenang.
Mengingat bahwa situasi baru cenderung menimbulkan perasaan tidak nyaman yang selanjutnya memicu hiperaktivitas, orangtua bisa membantu anak mempersiapkan diri dengan memberikan saran konkrit yang bisa dilakukan anak untuk mengendalikan dirinya. Misalnya memberikan saran untuk memegang bonekanya saat naik bus umum, duduk di troley membaca buku cerita kesukaan saat menemani ibu berbelanja. Dengan membantu menunjukkan strategi yang tepat, anak akan lebih mudah mengendalikan dirinya.
Lingkungan yang ditata rapi juga membuat anak hiperaktif lebih nyaman. Orangtua perlu menjaga agar barang-barang di rumah tersusun rapi, dan juga mengajari anak untuk mengatur barang-barangnya. Laci yang sudah ditandai dengan label-label akan lebih mempermudah anak menyimpan barang-barangnya.

Mengajarkan cara-cara kontrol diri
Self-talk
Yang dimaksud dengan self-talk adalah berbicara kepada diri sendiri untuk memberikan tuntunan kepada diri sendiri. Anak bisa diajari untuk berkata kepada dirinya sendiri “Tetap tenang,” ketika mulai merasa gelisah. Biasanya, ketika awal anak lebih suka melakukan self-talk dengan cara berbicara keras kepada dirinya, selanjutnya, anak bisa melakukan self-talk hanya dengan berbicara dalam hati. Untuk membiasakan anak melakukan self-talk, orangtua bisa mengucapkan self-talk seolah-olah sebagai anak ketika anak mulai menunjukkan perilaku hiperaktif, misalnya dengan berkata, “Apa yang seharusnya sedang kulakukan?”
Self-monitoring
Yang dimaksud dengan self-monitoring adalah melakukan evaluasi terhadap apa yang sudah dilakukan. Anak diajari self-monitoring agar ia bisa melihat sendiri kemajuan yang berhasil dicapainya sehingga menjadi semakin termotivasi. Selain itu, diharapkan dengan terbiasa melakukan self-monitoring, anak juga bisa menyadari ketika ia gagal mengendalikan dirinya, sehingga kemudian bisa memperbaiki diri. Mengajarkan self-monitoring, misalnya dengan mengajak anak menyadari bahwa berkat usaha gigihnya, ia telah berhasil menyusun 15 balok.
Anak selanjutnya juga perlu diajari untuk menghadiahi dirinya sendiri ketika berhasil mencapai suatu target, misalnya : “Kalau aku sudah menyelesaikan PR Matematika ini, aku akan membaca komik selama 10 menit.”
Excessive movement
Yang dimaksud di sini adalah melakukan gerakan secara berlebihan ketika diri mulai bertingkah hiperaktif. Anak bisa diajari bahwa ketika ia mulai menggerak-gerakkan tangannya, melakukan senam mengangkat dan menurunkan tangan sebanyak 10 kali. Tujuan dari excessive movement ini adalah untuk menginterupsi gerakan hiperaktif yang tidak terkontrol dan menggantikannya dengan gerakan yang disengaja.
Motor inhibition
Yang dimaksud adalah melakukan suatu aktivitas dengan gerakan yang diperlambat secara sengaja. Misalnya memperlambat gerakan saat meletakkan mainan dalam kotak mainan, mengambil pensil dari tempat pensil.

Dalam menolong anak mengatasi hiperaktivitas, orangtua perlu konsisten mengajarkan pengendalian perilaku. Jangan langsung menuntut anak terlalu banyak, melainkan buat target-target kecil, dan bantu anak mencapainya. Anak, dan juga diri Anda sendiri akan merasa semakin bersemangat ketika mengetahui bahwa satu kemajuan telah dicapai. Rayakan satu keberhasilan, meskipun bersamaan dengannya, ada satu kegagalan. Hindarkan jauh-jauh sikap perfeksionis yang menuntut kesempurnaan.

Anak yang menderita gangguan hiperaktivitas rentan mengalami rendah diri. Mereka terbiasa dimarahi oleh orang-orang di sekitar, sehingga merasa diri mereka begitu buruk. Oleh karena itu, orangtua perlu menunjukkan kepada mereka bahwa mereka tetap dicintai bagaimanapun keadaan mereka. Cinta Anda adalah alat yang bisa memotivasi mereka secara luar biasa. Ketika mereka merasa dicintai, mereka akan tetap bersemangat dalam berjuang ke arah lebih baik, sekalipun mengetahui beratnya tantangan yang harus dihadapi.

Satu hal lagi yang perlu diketahui orangtua, hiperaktivitas tidak ada kaitannya dengan inteligensi. Banyak anak hiperaktif yang memiliki inteligensi tinggi dan bakat luar biasa di bidang seni. Anak dengan hiperaktivitas justru seringkali lebih kreatif dan imajinatif.

*Untuk menangani masalah hiperaktif, sebaiknya orangtua meminta bantuan tenaga profesional, yaitu dokter, untuk memberikan terapi obat dan mengatur diet makanan, dan psikolog untuk memberikan terapi perilaku.


Sumber inspirasi :

Schaefer, C.E., Millman, H.L. 1981. How to Help Children with Common Problems. New York : Van Nostrand Reinhold Company.

Block, J., Smith, M., Segal, J., ADD/ADHD Parenting Tips : Helping Children with Attention Deficit Disorder. 2010. http://www.helpguide.org/mental/adhd_add_parenting_strategies.htm (diakses tanggal 13 November 2010)



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih atas kesediaan Anda memberikan komentar. Komentar yang Anda berikan akan sangat bermanfaat bagi saya dalam mengembangkan tulisan-tulisan saya.