Selasa, 18 Agustus 2009

HIPERAKTIF


Gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas yang biasa dikenal dengan sebutan ADHD (Attention Deficit and Hyperactivity Disorder) adalah sebuah gejala di mana anak kesulitan memusatkan perhatian, mudah terganggu konsentrasinya dan cenderung terus bergerak. Orangtua sering khawatir anaknya mengalami gangguan ADHD karena gangguan ini akan berpengaruh terhadap keberhasilan anak di bidang akademik di sekolah. Meskipun ADHD sendiri baru bisa didiagnosis sesudah anak berusia 7 tahun (sebab usia 1-3 tahun adalah merupakan periode aktif anak di mana anak secara wajar memang sangat aktif bergerak), namun orangtua bisa mulai sejak dini memperhatikan kelemahan anak dan mengambil langkah antisipatif untuk meningkatkan kemampuan konsentrasi anak dan fleksibilitas anak. Pandangan orang sendiri dalam menyikapi perilaku anak memang berbeda-beda, ada orangtua yang menolerir perilaku aktif anak, menganggapnya sebagai perilaku yang sehat dan wajar, tapi ada juga orangtua yang terlalu khawatir atau sangat tidak suka melihat perilaku anak yang aktif. Dunia sekolah sekarang ini juga semakin menuntut anak untuk duduk diam di dalam kelas, jika dibandingkan dengan puluhan tahun lalu. Akan tetapi, mengesampingkan perbedaan tuntutan tersebut, yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana kita mengasah kemampuan anak untuk berperilaku secara fleksibel, dalam arti dia bisa menempatkan perilakunya menurut situasi, agar di satu waktu dia mampu tenang memperhatikan dan menangkap informasi, sementara di lain waktu aktif bergerak.

Manifestasi gangguan atau simtom gejala ADHD memang nampak sama, namun masing-masing anak bisa mempunyai latar belakang penyebab yang berbeda-beda, yaitu kelemahan dalam fungsi tertentu. Berdasarkan temuan Stanley I. Greenspan, M.D., proses pemusatan perhatian dipandang sebagai sebuah dinamika yang melibatkan :
  • Fungsi penerimaan sensorik, yaitu tingkat sensitivitas indera terhadap stimulus.
  • Fungsi pemrosesan informasi
  • Fungsi perencanaan dan pelaksanaan tindakan

Oleh sebab itu, jalan untuk mengatasi ADHD atau meningkatkan kemampuan konsentrasi terdiri dari 3 langkah utama :
  1. Melatih fleksibilitas respon indera
  2. Memperkuat kemampuan kontrol tubuh, koordinasi tubuh
  3. Melatih kemampuan perencanaan, gerak bertahap maupun pemikiran bertahap (planning and sequencing)

Langkah lain yang akan sangat mendukung, yaitu :
·      Melatih anak berpikir reflektif, agar anak memahami dirinya dengan baik, menyadari kelemahan dirinya, menyadari perasaannya dalam situasi-situasi yang sulit, sehingga mampu mengambil langkah antisipatif.
·       Membangun rasa percaya diri anak, yaitu agar anak merasa lebih positif terhadap dirinya sendiri, sehingga tidak mudah terlalu khawatir dan kacau saat menghadapi situasi sulit, melainkan yakin bahwa dirinya bisa mengatasi situasi sehingga termotivasi untuk fokus menghadapi tantangan/kesulitan tersebut. Anak yang mengalami gangguan konsentrasi dan hiperaktivitas rentan merasa rendah diri, sehingga mereka perlu dibantu untuk membangun konsep diri positif, yaitu dengan cara menunjukkan apa saja yang menjadi kelebihan atau bakat mereka. Jangan sampai karena terlalu fokus mengatasi kelemahan mereka, mengejar ketinggalan akademik, kita justru tidak memberikan ruang kepada bakat dan kelebihan mereka untuk berkembang.

Sementara itu, dukungan yang bisa diberikan oleh lingkungan, yaitu :
  • Keluarga, orang-orang sekitar meningkatkan kesempatan untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan anak
  • Lingkungan fisik dimodifikasi, misalnya agar tidak terlalu gaduh, tidak terlalu banyak benda-benda yang mengganggu penglihatan, tidak banyak lalu-lalang orang, dan sebagainya.


MELATIH KONTROL TUBUH, KOORDINASI MOTORIK
1.    Melatih motorik kasar
Contoh : mengesot (merayap dengan perut), merangkak, merangkak dengan tangan (kaki dipegangi orang lain), berjalan, lari, melompat, lompat satu kaki, aneka gerakan senam atau tari.
2.    Melatih gerak dengan tempo (modulasi), dengan kecepatan cepat, agak cepat, sedang, lambat, lambat sekali. Bisa menggunakan macam aktivitas nomor 1, bisa juga dengan bertepuk tangan, memukul drum, atau bersuara keras-pelan.
3.    Melatih body awareness
Latihan melewati terowongan, melewati pagar, menerobos palang, lari halang-rintang, lompat tinggi, menangkap bola, memasukkan bola ke keranjang, menendang bola.
4.    Melatih koordinasi kanan-kiri, mata-tangan, mata-kaki
Pegang bahu kanan dengan tangan kiri, pegang lutut kanan dengan tangan kiri, menangkap bola, menendang bola.
5.    Melatih keseimbangan
Contoh : lompat di trampolin, berdiri satu kaki, jalan di balok.
6.    Melatih motorik halus
Contoh : mewarnai, menggambar, menggunting, permainan gerak jari.

MELATIH GERAK BERTAHAP (PLANNING AND SEQUENCING)

Ajak anak untuk melakukan aktivitas dengan beberapa gerakan. Dimulai dengan gerak satu langkah, kemudian gerak 2 langkah, dilanjutkan gerak 3 langkah.
Contoh instruksi :
Ambil tongkat, pukulkan tongkat ke drum, letakkan tongkat di samping drum.
Ambil mobil, jalankan mobil menuju rumah, parkirkan mobil di samping rumah.
Bisa juga anak dilatih senam atau menari yang terdiri dari rangkaian berbagai gerak.

Contoh permainan yang cocok untuk melatih kemampuan sequencing :
  • Game “Simon berkata”. (“Simon berkata, lari ke kursi, duduk di kursi”)
  • Permainan mencari harta karun, dengan petunjuk verbal maupun petunjuk visual (gambar).
  • Eksperimen sains
  • Menggambar (anak diinstruksi untuk menggambar, contoh “Buat persegi, gambar segitiga di atas persegi, lingkaran kecil di dalam segitiga.”)

MELATIH RESPON INDERA (SENSORY PROCESSING)
Yaitu melatih agar anak lebih fleksibel dalam kemampuannya menerima stimulus suara, penglihatan, sentuhan, dan sebagainya.
Anak yang terlalu peka (sensitive) inderanya, cenderung mudah terganggu dan merasa tidak nyaman, sehingga akibatnya menjadi sukar berkonsentrasi.
Sebaliknya, anak yang kurang peka inderanya, sukar ditarik perhatiannya karena ia membutuhkan stimulus yang intensitasnya lebih, baru lah ia bisa menangkap melalui inderanya (contoh : butuh suara agak keras).

Untuk anak yang overreactive (terlalu sensitif inderanya) :
Mulai dengan memberikan stimulus dengan intensitas yang anak merasa nyaman, kemudian secara bertahap tingkatkan intensitas stimulus itu. Misalnya : anak diajak mewarnai dengan disetelkan musik lembut, kemudian berangsur-angsur musik dibuat lebih keras dan dengan lagu yang berirama cepat.

Untuk anak yang underreactive (kurang sensitif inderanya) :
Mulai dengan memberikan stimulus yang anak rasakan membangkitkan energinya, kemudian secara bertahap kurangi intensitas stimulus.
Contoh : anak diajak mengamati gambar yang berwarna sangat mencolok, kemudian gambar dengan warna yang lebih lembut, dan kemudian gambar yang tidak berwarna.
Anak diinstruksi dengan suara keras, kemudian suara yang sedang, dan terakhir dengan suara berbisik.
Anak diajak mendengarkan suara-suara, mendeteksi suara-suara yang ada di sekitarnya : suara klakson mobil, suara orang berbicara, suara burung berkicau, suara kipas angin atau AC, suara jam berdetak.

MELATIH PERHATIAN TERHADAP STIMULUS VISUAL
Aktivitas :
  • Ajak anak untuk memperhatikan benda-benda sekitar.
“Hei, lihat kupu-kupu itu.”
“Coba temukan anak bebek dalam gambar ini.”
“Coba cari di mana boneka kelincimu.”
  • Bermain menyembunyikan benda di dalam genggaman tangan atau di tempat tertentu.
Perlu diperhatikan, latih dengan tingkat kesulitan yang bertahap, mulai dari yang anak merasa mudah.

MELATIH PERHATIAN TERHADAP STIMULUS SUARA
Anak yang kesulitan memperhatikan suara (informasi/instruksi verbal), pada mulanya membutuhkan bantuan gambar (stimulus visual).
Aktivitas :
  • Ajak anak untuk mendeskripsikan gambar. “Dalam gambar ini, ada anak bebek yang sedang berenang… di tepi sungai ada kelinci, … “
  • Ajak anak menemukan mainan kesukaannya dengan petunjuk verbal.
Berikan informasi/instruksi dengan berbicara pelan-pelan, setahap demi setahap. Jangan langsung berbicara beberapa kalimat sekaligus, karena ini terlalu rumit.
Biasakan untuk menyebutkan nama benda-benda yang sedang dilihat atau dimainkan anak, juga menyebutkan aktivitas yang sedang dilakukan, misalnya “Adik main tuang-tuang air,”  “Mama menyapu,” “Papa sedang menelepon nenek,” dsb.

Senjata dalam melatih perhatian terhadap stimulus adalah :
Memanfaatkan MINAT anak. Gunakan bantuan benda/barang yang disukai anak. The key steps are to invest all parts of their world with emotion, that is, to care about what they are seeing and hearing (p. 102).


MELATIH KEMAMPUAN BERPIKIR

Kemampuan berpikir yang perlu diasah yaitu :
  • Memahami prinsip keajegan, bahwa benda tidak berubah volumenya meski bentuknya diubah. Contoh : air dituang dalam berbagai wadah, clay dibentuk menjadi berbagai rupa.
  • Melakukan klasifikasi, mengelompokkan benda-benda menurut kategori tertentu.
  • Membandingkan : besar-kecil, banyak-sedikit.
  • Menghubungkan sebab-akibat
  • Berpikir abstrak
  • Melihat ide utama, menangkap ‘big picture’nya, dan tidak berhenti pada informasi-informasi detailnya saja, melainkan mampu memahami intinya.
  • Memperhatikan, mengingat fakta secara detail.


MELATIH KESADARAN ANAK
Anak perlu diajari untuk terbiasa membaca keadaan diri dan emosinya, sehingga dengan demikian ia lebih merasa punya kontrol atas dirinya dan tidak mudah kacau terkendali oleh lingkungannya.
Misalnya : “Aku mulai tidak betah duduk. Aku ingin berjalan sebentar.”
“Rasanya aku mulai kacau.”
“Aku tidak suka suara bising di luar itu.”


Ketika anak lepas kendali
Ketika anak sedang dalam kondisi kacau, orangtua perlu bereaksi dengan tenang tapi tegas. Teriakan marah, bentakan, atau pukulan bukanlah reaksi terbaik. Perilaku impulsif orangtua seperti ini justru akan memperburuk situasi, seperti ‘menyiramkan bensin ke api’, di samping juga tidak mengajari anak untuk mengendalikan emosinya dengan baik.
Ajak anak keluar dari situasi yang membuatnya kacau, mengganti dengan aktivitas yang membuatnya lebih tenang. Kemudian, bicarakan tentang apa yang barusan terjadi, bagaimana situasi dan bagaimana perasaannya, serta ingatkan apa konsekuensi yang akan dia terima atas pelanggarannya (bila ia melanggar peraturan yang sudah disepakati).
  

Sumber :
Greenspan, S.I., 2009. Overcoming ADHD. Da Capo Press.

Last reviewed : Juli 2014

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih atas kesediaan Anda memberikan komentar. Komentar yang Anda berikan akan sangat bermanfaat bagi saya dalam mengembangkan tulisan-tulisan saya.