Tampilkan postingan dengan label Pengembangan diri anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengembangan diri anak. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Juli 2011

Mencetak Anak Percaya Diri


Rahasia di balik kepercayaan diri adalah sebuah konsep diri positif. Jika orangtua ingin agar anak tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, jalan yang harus ditempuh adalah membentuk konsep diri yang positif dalam diri anak. Berikut ini akan dibahas bagaimana orangtua dapat menanamkan konsep diri yang positif dalam diri anak.

Arti konsep diri yang positif
Seseorang yang mempunyai konsep diri positif mempunyai cara pandang yang positif terhadap dirinya. Ia memandang dirinya baik, merasa senang dengan kelebihannya, namun juga mampu menerima dengan ikhlas kekurangannya, sehingga nyaman dan bahagia menjadi dirinya sendiri. Meski mengetahui dengan baik kelemahan-kelemahannya, ia tidak suka menjelek-jelekkan diri sendiri atau mencaci-maki diri sendiri. Ia merasa optimis pada dirinya, percaya pada kemampuannya, sehingga penuh semangat dan tidak mudah menyerah dalam berjuang.

Manfaat konsep diri yang positif
Anak yang mempunyai konsep diri positif merasa senang dan bahagia dengan dirinya sendiri. Ini membuat anak lebih mampu menikmati hidup dan keberadaan dirinya. Dari luar, anak pun tampil sebagai pribadi yang ceria dan menyenangkan. Konsep diri yang positif juga membuat anak menjadi tangguh dalam mengejar tujuan, optimis, tidak mudah menyerah ketika menemui tantangan. Konsep diri yang positif ternyata juga menjauhkan anak dari berbagai gangguan perilaku. Berbagai gangguan perilaku anak dan remaja berakar dari harga diri anak yang rendah, mulai dari kecemasan, depresi, perilaku suka bohong, suka mengolok-olok orang, agresif, maupun berbagai perilaku antisosial lainnya, semuanya dilatarbelakangi oleh harga diri yang rendah, atau dengan kata lain, konsep diri yang negatif. Jadi, konsep diri yang positif memang besar manfaatnya dalam hidup seseorang.


Membentuk konsep diri positif dalam diri anak
Pembentukan konsep diri dimulai sejak masa kanak-kanak, bahkan sesungguhnya sejak bayi. Anak melihat bagaimana orang-orang dekat memperlakukan dirinya, dan dari situ lah mereka belajar memandang dirinya sendiri. Ketika orangtua dan juga orang-orang sekitar memperlakukan anak dengan baik sehingga anak merasa dicintai, anak merasa dirinya berharga, sehingga kemudian mengembangkan konsep diri yang positif. Dalam hal ini, pengaruh terbesar dipegang oleh pengasuh atau orangtua. Itulah sebabnya, penting bagi orangtua untuk menunjukkan sikap positif terhadap anak. Berikut ini ada beberapa cara yang dapat ditempuh orangtua untuk menanamkan konsep diri yang positif pada anak :

Menumbuhkan perasaan berharga pada anak

Responsif terhadap kebutuhan anak
Sejak anak masih bayi, orangtua perlu menunjukkan sikap responsif terhadap kebutuhan anak. Sebagai contoh, ketika bayi menangis, orangtua tanggap, menggendongnya, memberi susu, mengganti popok, atau membuatnya lebih nyaman. Ketika anak belajar berjalan dan terjatuh, orangtua menolong, membantunya bangun dan menghiburnya. Perhatian orangtua terhadap apa yang dibutuhkan anak menghindarkan anak dari perasaan terabaikan.

Mempedulikan perasaan anak
Orangtua perlu menunjukkan empati terhadap perasaan anak. Terima dan hargailah perasaan anak, termasuk juga perasaan negatif seperti kesedihan, kemarahan, kecemasan, ketakutan. Orangtua bisa melarang beberapa cara ekspresi perasaan yang tidak tepat yang dilakukan anak, namun tidak seyogyanya melarang anak merasakan perasaan itu sendiri. Sebagai contoh, ketika anak merasa jengkel dengan adiknya karena merasa cemburu dan membanting mainan adiknya, orangtua bisa menegur anak atas perilakunya membanting mainan itu, namun tidak menyalahkannya karena telah merasa tidak suka pada adiknya. Di saat seperti itu orangtua bisa berkata demikian, “Mama bisa memahami kamu merasa jengkel karena adikmu menyita banyak waktu mama, tapi kamu bisa bicara dengan mama kalau kamu ingin bermain bersama mama. Kamu harus ingat, mama selalu sayang kamu.” Semua orang mempunyai hak untuk merasakan emosi tertentu, begitu pula dengan anak.
Terhadap emosi yang disebabkan pemikiran anak yang tidak rasional, orangtua bisa membantu anak meluruskan pemikirannya, namun tidak menertawakannya atau memberikan komentar yang meremehkan. Sebagai contoh, ketika anak merasa khawatir akan ada monster yang keluar dari kolong tempat tidur, orangtua bisa berkata, “Monster memang tampak menakutkan, tapi monster itu hanya ada di cerita atau film saja. Monster itu hanya bohong-bohongan. Tidak pernah ada orang yang bertemu dengan monster.” Saat orangtua merasa telah melukai perasaan anak, orangtua juga bisa meminta maaf terhadap anak untuk menunjukkan bahwa orangtua mempedulikan perasaannya.

Banyak mengekspresikan kasih sayang kepada anak
Katakan kepada anak berulangkali bahwa Anda mencintainya. Berikan pelukan, ciuman, meski tidak ada momen spesial sekalipun. Tidak perlu khawatir karena ekspresi kasih sayang itu sendiri tidak akan membuat anak menjadi manja.

Meluangkan waktu bersama anak
Anak mengukur cinta dari waktu yang diluangkan orangtua untuk bersamanya. Apabila orangtua sibuk bekerja terus-menerus hingga tak punya waktu untuk anak, anak kurang merasa dicintai, merasa dirinya kurang penting bagi orangtua. Ciptakan waktu bersama anak yang berkualitas, misalnya dengan bermain bersama, membacakan buku cerita. Ketika Anda bersama anak, jangan lupa menunjukkan sikap antusias. Wajah Anda yang tersenyum lembut ketika menatap matanya, atau ceria ketika bermain bersamanya, menyampaikan informasi kepada anak bahwa ia adalah pribadi yang berharga di mata Anda.

Menunjukkan penerimaan terhadap anak
Berilah lebih banyak pujian ketimbang kritikan. Tunjukkan bahwa Anda menerima diri anak apa adanya, termasuk juga sifat-sifatnya yang berbeda dari diri Anda. Katakan dalam hal apa anak mempunyai kelebihan, kelebihan dalam hal penampilan fisik maupun sifat kepribadian. Berikan pujian ketika ia melakukan suatu perilaku yang baik.

Menghargai niat baik anak
Tunjukkan bahwa Anda menghargai usaha anak untuk melakukan suatu kebaikan, misalnya ketika ia berusaha melakukan sesuatu untuk menyenangkan hati Anda. Anda bisa tersenyum, mengucapkan terima kasih, mengatakan bahwa Anda senang, atau memujinya dengan berkata bahwa ia adalah seorang anak yang berhati baik. Seringkali rencana anak untuk memberi kejutan tidak berjalan mulus, karena kemampuannya yang terbatas atau ketidakhati-hatiannya, sehingga yang terjadi justru sebuah kecelakaan dan kegagalan, oleh karena itu, Anda perlu melihat lebih teliti niat apa yang ada di balik sebuah kejadian agar tidak salah menilai.

Mendengarkan anak
Anak-anak butuh didengarkan, mereka menginginkan perhatian dan sikap menghargai dari orang dewasa ketika mereka berbicara, baik ketika bercerita maupun menyampaikan komentar, pendapat, atau ide. Mendengarkan anak dengan sikap yang menghargai dapat dilakukan dengan cara berikut :
• Membungkukkan badan atau jongkok sehingga lebih dekat dengan anak saat mendengarkan anak berbicara
• Mengadakan kontak mata dengan anak, menatap wajahnya dengan penuh kasih
• Tersenyum atau menunjukkan ekspresi wajah yang sesuai dengan perasaan yang disampaikan anak lewat ceritanya
• Menanggapi dengan nada bicara yang ekspresif dan menunjukkan antusiasme, tidak dengan nada datar
• Tidak memotong pembicaraan anak, meski mungkin merasa tidak sependapat dengan anak, atau menganggap bahwa apa yang dibicarakan anak bukan sesuatu hal yang penting
Sangat baik apabila orangtua menyediakan waktu khusus untuk memberi kesempatan anak bercerita. Waktu makan malam, sesudah makan malam, atau sebelum tidur merupakan saat yang tepat.

Memaafkan kesalahan anak
Orangtua memang perlu menegur dan menyatakan terus-terang bahwa dirinya marah atau tidak suka ketika anak melakukan kesalahan. Akan tetapi jangan sampai orangtua membiarkan amarahnya berlarut-larut dengan mendiamkan atau mengabaikan anak hingga waktu yang lama. Segera berikan perhatian lagi ketika ia menunjukkan rasa sesal atau melakukan apa yang Anda minta. Jangan biarkan anak pergi tidur dengan berpikir bahwa Anda masih marah padanya. Ketika anak berbuat salah, beri tahu anak bagaimana semestinya berperilaku yang lebih baik atau bagaimana memperbaiki kesalahannya tersebut. Sewaktu marah, tekankan bahwa yang tidak Anda sukai adalah apa yang dilakukannya, bukan dirinya yang tidak Anda sukai.

Tidak memaki anak
Jangan memarahi anak dengan mengeluarkan kata-kata kasar atau memberikan sebutan buruk seperti “bodoh,” “nakal,” “pemalas,” “jahat,” dan lain sebagainya. Ketika menegur anak, cukup katakan perilaku buruk mana yang telah dilakukannya, tanpa menambahkan label-label negatif.

Tidak mengolok-olok anak
Jangan menggoda anak dengan mengolok-olok kelemahannya ataupun memanggil dengan julukan terkait kekurangannya, misalnya “Pesek,” “Gendut,” “Nonong,” dan sebagainya. Sekalipun hanya ditujukan untuk bergurau, sebutan-sebutan semacam itu mudah sekali terngiang dalam benak anak, dan membuat perhatian anak lebih tertuju pada kekurangan tersebut.

Tidak mempermalukan anak
Jangan menceritakan kepada orang lain tentang keburukan anak atau sesuatu hal yang tidak Anda sukai darinya. Juga jangan membanding-bandingkan ia dengan anak lain. Kedua cara ini tidak akan pernah efektif untuk mengubah perilaku anak yang buruk, anak tidak akan termotivasi untuk memperbaiki diri melainkan hanya semakin percaya bahwa dirinya buruk.

Menjaga kepercayaan anak
Jangan membohongi anak. Anda bisa mengatakan bahwa Anda tidak bersedia menjawab atau tidak ingin menceritakan sesuatu hal yang ditanyakan anak, namun jangan membohonginya. Ketika anak menceritakan suatu rahasianya kepada Anda, jaga kepercayaannya dengan tidak membocorkan rahasia tersebut.

Memberikan contoh sikap menghargai diri sendiri
Orangtua perlu memberikan contoh bagaimana menyukai diri sendiri. Apabila orangtua sering mengeluhkan kelemahan diri, berkata-kata buruk terhadap diri sendiri atau memaki diri sendiri, misalnya “Duh, bodoh, bodoh!” anak akan meniru hal yang sama. Oleh karena itu, hindari kebiasaan suka memaki diri sendiri. Memaki diri sendiri berbeda dengan mengakui kesalahan. Perbedaannya terletak pada sikap saat bicara. Saat memaki diri, orang dengan serius menyatakan rasa tidak senangnya terhadap diri sendiri, sedangkan ketika orang mengakui kesalahan/kelemahan, meskipun menyatakan bahwa dirinya salah/lemah, ia menunjukkan sikap lebih terbuka dalam menerima kesalahan/kelemahan tersebut, mungkin ia berkata sambil tersenyum atau menertawakan diri sendiri.

Lain-lain

Anda bisa juga melakukan hal-hal kecil untuk membuat anak senang dan merasa semakin dicintai, misalnya dengan cara berikut :

Memperingati hari ulang tahun atau merayakan momen spesial anak
Rayakan hari ulang tahun atau momen spesial seperti keberhasilannya memperoleh keterampilan membaca, berenang, saat kenaikan kelas, atau saat selesai tampil dalam sebuah acara pentas. Merayakan cukup dilakukan sederhana, misalnya dengan makan es krim bersama. Saat anak berulang tahun, Anda mungkin bisa membuat kejutan dengan menggantungkan tulisan “Selamat Ulang Tahun” dari kertas warna-warni di pintu kamar anak. Kue ulang tahun pun tidak harus berupa kue tart yang mahal, bisa dibuat sendiri dari donat warna-warni yang ditumpuk dan di atasnya ditancapkan lilin. Anak mengukur kasih dengan perhatian, bukan dengan kemewahan materi.

Menceritakan tentang masa kecil anak
Anak sangat suka mendengar orangtua bercerita tentang masa kecilnya. Ceritakan hal-hal lucu dan menggemaskan yang telah dilakukannya semasa ia kecil.


Menumbuhkan perasaan mampu pada anak

Menghargai prestasi dan hasil karya anak
Saat anak menyanyikan lagu, menari, atau menampilkan sebuah kemampuan, berikan perhatian, senyuman, bila perlu tepuk tangan. Ketika anak membuat sebuah kartu spesial untuk Anda, atau sebuah lukisan, terimalah dengan antusias dan katakan bahwa itu membuat Anda bahagia. Anda bisa juga memajang hasil karyanya di meja atau dinding ruangan Anda.

Memberikan dukungan
Berikan kata-kata penyemangat yang mengkomunikasikan bahwa Anda percaya dia mampu. Ketika anak gagal, hindari mencemooh dan menunjuk-nunjuk kesalahannya, cukup Anda mendampingi anak merasakan kesedihannya. Apabila ia mengalami kegagalan sesudah berjuang cukup keras, katakan bahwa ia harus merasa bangga juga atas keberaniannya mencoba dan bangga karena telah berusaha sebaik-baiknya, bukan hanya melihat hasil akhirnya saja.

Memasang target dan harapan yang sesuai
Hindari memasang target terlalu tinggi, sebab anak akan merasa frustrasi ketika gagal mencapainya. Akan tetapi, hindari juga target yang terlalu rendah, sebab anak akan merasa tidak dipercaya dan merasa dirinya dipandang lemah. Target yang tepat adalah sedikit lebih tinggi di atas kemampuan anak saat ini. Cara merancang target yang realistis seperti ini juga perlu diajarkan kepada anak, agar anak bisa dengan mandiri menentukan tujuan yang hendak diraihnya tanpa menuntut diri sendiri secara berlebihan.

Menghargai pemikiran anak
Berikan kesempatan kepada anak untuk berpendapat, dan hargai sudut pandangnya. Izinkan ia mengambil keputusan atas hal-hal pribadinya yang mampu dia tangani sendiri.

Menghargai usaha anak
Hindari memfokuskan pandangan hanya pada hasil yang dicapai anak. Berikan pujian tidak hanya ketika anak berhasil, namun juga ketika anak berani mencoba sesuatu atau melakukan sebuah usaha dengan tekun dan gigih. Ketika anak meraih sebuah keberhasilan, jangan lupa ajak anak untuk melihat ke belakang dan menyadari bahwa keberhasilan tersebut adalah buah dari usaha kerasnya.

Memberikan kesempatan untuk berusaha sendiri
Bantuan yang berlebihan dari orangtua justru berdampak buruk bagi anak. Apabila orangtua selalu mengulurkan tangan begitu anak mulai mencoba, anak tidak mempunyai kesempatan untuk merasa sukses atas usahanya sendiri. Pengalaman sukses sangat diperlukan untuk memupuk perasaan mampu.

Memberi tanggung jawab sesuai dengan usianya
Biarkan anak melakukan pekerjaan/tugas yang mampu dilakukannya sendiri tanpa membantunya. Anda bisa juga memberikan tugas-tugas yang sesuai dengan kemampuannya. Percayakan beberapa urusan rumah tangga yang ringan, misalnya mengupas wortel dengan peeler, menata meja makan, menyirami tanaman, atau membuang sampah. Sekalipun nampaknya sederhana, hal-hal ini menguatkan perasaan mampu pada diri anak dan membuatnya merasa berguna sebagai seorang pribadi.

Mengizinkan anak membantu kita
Sedapat mungkin, berikan kesempatan kepada anak untuk membantu kita. Mungkin hasilnya memang tidak persis seperti yang kita harapkan, namun berusahalah untuk bersikaplah cukup fleksibel, dalam arti tidak menuntut hasil sempurna. Ingatlah bahwa lebih penting menumbuhkan perasaan mampu pada anak daripada memperoleh hasil yang memuaskan.

Mengajarkan kebiasaan untuk menghargai kesuksesan diri
Setiap malam sebelum tidur, Anda bisa mengajak anak mengingat pengalaman keberhasilannya hari itu. Tak perlu keberhasilan yang hebat atau luar biasa, sekedar kesuksesan kecil saja layak dihargai, misalnya saja anak membuat ibu guru senang karena merapikan meja guru, atau anak melucu sehingga temannya yang tadinya bersedih jadi tertawa, atau mengobati adik yang terluka. Ketika anak menceritakannya, tunjukkan bahwa Anda turut menghargai keberhasilannya itu. Ajari anak juga untuk merasa bangga sekedar atas keberaniannya berusaha, sekalipun mungkin hasil yang diraih kurang memuaskan. Tekankan bahwa sukses adalah ketika kita melakukan yang terbaik yang mampu kita lakukan.

Mengajarkan sikap yang benar dalam memandang ketidakmampuan diri
Pastikan bahwa anak memahami bahwa semua orang punya keterbatasan karena tidak ada manusia yang sempurna, akan tetapi sadarkan anak juga bahwa tidak semua ketidakmampuan bersifat abadi. Dengan usaha, kita bisa meningkatkan kemampuan. Bila anak memahami konsep ini, ia akan menjadi pribadi yang tidak mudah menyerah, namun juga mampu menerima dengan lapang kegagalan dan kelemahan diri.
Sering juga terjadi, anak memandang dirinya bodoh hanya karena satu kelemahan saja, atau bahkan hanya gara-gara sebuah kegagalan saja. Oleh karena itu, orangtua perlu memperhatikan apakah anak menggeneralisasikan kegagalannya itu menjadi sebuah pandangan negatif terhadap diri sendiri. Sebagai contoh, anak merasa dirinya bodoh hanya karena ia lemah dalam pelajaran Matematika. Bila orangtua menemukan kesalahan persepsi anak seperti ini, ajari anak untuk membetulkan persepsinya. Ajak anak untuk melihat bahwa kelemahan atau kegagalannya tersebut hanya berlaku untuk satu bidang atau hanya bersifat situasional.

Mengajarkan berbicara kepada diri sendiri secara positif (positive self-talk)
Ajari anak untuk mempunyai kebiasaan memberi semangat kepada diri sendiri. Misalnya dengan berkata dalam hati, “Aku pasti bisa kalau berusaha keras,” “Aku harus mencoba,” atau “Kalau aku berusaha sedikit lagi, pasti aku bisa”. Sebaliknya, ajarkan untuk tidak berkata-kata buruk kepada diri sendiri, seperti, “Aku tidak pernah bisa melakukan sesuatu dengan beres,” “Percuma, aku pasti gagal,” dan semacamnya. Katakan kepada anak bahwa saat melakukan kesalahan, lebih baik berkata, “Namanya juga manusia,” daripada memaki diri sendiri, “Dasar, memang aku ini bodoh.”

Melibatkan anak dalam berbagai aktivitas
Izinkan anak untuk aktif dalam berbagai kegiatan, baik kegiatan sosial maupun kegiatan mengasah keterampilan diri. Melalui kegiatan-kegiatan yang bervariasi, anak memiliki kesempatan lebih banyak untuk menemukan kemampuan dirinya. Hanya saja, kegiatan-kegiatan tersebut perlu dibatasi jumlahnya dan diatur sedemikian rupa agar anak mempunyai waktu yang cukup untuk beristirahat dan masih bisa menikmati waktu bebasnya secara pribadi.


Dasar-dasar perasaan mampu terbangun sebelum anak berusia 5 tahun. Oleh karena itu, pada 5 tahun awal kehidupannya, sangat penting bagi orangtua untuk menerapkan prinsip-prinsip pengasuhan yang mendukung perasaan mampu anak. Usaha orangtua untuk menanamkan konsep diri positif pada diri anak akan menjadi bekal yang sangat berharga bagi anak di masa depan, tidak hanya untuk menjadikan ia sebagai pribadi yang percaya diri, melainkan juga menjadi kunci masuk ke sebuah kehidupan yang bahagia.


Sumber inspirasi :
Ireland, K., 2003. 150 Cara untuk Membantu Anak Meraih Sukses (Alih bahasa : Grace Satyadi). Jakarta : Erlangga.
Krulik, N., 2000. Raise Your Child’s Self-Esteem, 99 Easy Things to Do. New York : Scholastic.

Baca lebih lanjut...

Selasa, 24 Mei 2011

Pendidikan Seksualitas di Rumah


Memberikan pendidikan seks di rumah adalah jalan untuk mencegah anak tersesat, memperoleh info yang tidak akurat dan menangkap pesan yang salah mengenai hal-hal seksualitas. Akan tetapi, seringkali orangtua bingung bagaimana memberikan pendidikan seksualitas kepada anak, kapan memulai pembicaraan, dan apa saja yang perlu dibahas. Mengajarkan seksualitas kepada anak sesungguhnya tidak sesulit dan serumit yang dibayangkan orangtua. Di bawah ini akan disajikan bagaimana orangtua dapat mengambil langkah untuk memberikan pendidikan seksualitas kepada anak.

Persiapan
Pertama-tama, yang perlu dilakukan adalah memahami apa saja isi pendidikan seksualitas yang dibutuhkan. Topik seksualitas tidak terbatas pada arti hubungan seksual saja. Pendidikan seksualitas yang komprehensif, selain meliputi penjelasan mengenai fungsi organ reproduksi, perkembangan organ reproduksi saat pubertas, hubungan seksual dan penyakit menular seksual, juga mencakup pengajaran tentang identitas dan peran sebagai pria/wanita, cara pandang terhadap tubuh, serta ekspresi kasih sayang dan keintiman hubungan.
Selanjutnya, orangtua perlu menyadari nilai-nilai apa saja berkaitan dengan seksualitas yang ingin ditanamkan pada diri anak. Misalnya saja mungkin orangtua ingin agar anak mencintai identitas dan perannya sebagai pria/wanita, tidak berhubungan seks sebelum menikah, atau agar anak memiliki kepercayaan diri dan kemandirian yang cukup untuk tidak bergantung pada sosok pacar. Dengan menyadari nilai-nilai ini, orangtua bisa membuat pendidikan seksualitas yang diajarkan lebih terarah.
Bicara seputar seksualitas sering menimbulkan rasa tidak nyaman, padahal, jika orangtua belum nyaman untuk bicara tentang seksualitas, anak akan menangkap rasa tidak nyaman tersebut, dan akibatnya, tidak akan bisa berkonsentrasi dengan baik untuk mendengarkan apa yang dibicarakan. Oleh karena itu, jika dirasa perlu, orangtua bisa terlebih dahulu berlatih, bisa dengan cara berbicara sendiri, atau pura-pura menjelaskan kepada suami/istri atau teman. Cobalah menyebut organ seksual seolah-olah seperti ketika menyebut organ tubuh lain, mata atau telinga.

Membicarakan topik seksualitas sesuai usia anak
Pendidikan seksualitas idealnya tidak hanya diberikan ketika anak menginjak masa remaja. Ketika anak masih kecil, orangtua bisa memulainya dengan mengajarkan nama bagian-bagian tubuh, termasuk alat kelamin. Katakan bahwa ada bagian tubuh yang boleh dilihat, disentuh orang lain, tapi ada juga bagian tubuh yang perlu dijaga privasinya. Ajak anak untuk merawat tubuhnya dengan baik, mencintai tubuhnya, tanpa menganggap alat kelamin sebagai organ tubuh yang kotor atau memalukan. Ajarkan juga perilaku yang tepat, yang sesuai dengan perannya sebagai pria atau wanita, misalnya cara berpakaian, cara berkomunikasi dengan orang lain.
Ketika anak hendak memasuki masa remaja, orangtua perlu menjelaskan perubahan fisik yang akan terjadi dan dialami pada masa pubertas. Hal ini penting dilakukan agar anak tidak cemas saat mengalami perubahan-perubahan tersebut, dan bisa secepat mungkin menyesuaikan diri dan menjadi nyaman dengan dirinya. Ajari anak untuk merawat dan menjaga kebersihan dirinya, termasuk bagaimana menangani menstruasi atau mimpi basah dengan baik saat mengalaminya. Orangtua juga tak boleh lupa menyampaikan bahwa pada masa remaja, mulai timbul gairah seksual, yang meskipun terkadang dirasa begitu kuat, tetap bisa dikendalikan. Ajarkan berbagai cara untuk menyalurkan energi berlebihan tersebut, misalnya dengan olahraga atau aktivitas lain yang menjadi hobi.

Topik pembicaraan saat anak berusia balita :
+ Pengenalan bagian-bagian tubuh, termasuk nama yang benar dari alat kelamin
+ Pemahaman tentang privasi, bagaimana menjaga privasi diri dan menghormati privasi orang lain
+ Pemahaman tentang sentuhan fisik sebagai komunikasi, sentuhan yang tepat dan sentuhan yang tidak tepat
+ Asal bayi
Pada usia 3 tahun, ketika anak bertanya tentang asal adik bayi, orangtua bisa berkata bahwa adik bayi tumbuh dari sebuah telur yang ada dalam perut ibu, lalu keluar melalui jalan khusus, yaitu vagina. Sedangkan untuk anak usia 6 tahun ke atas, orangtua bisa menjelaskan bahwa ketika pria dan wanita saling mencintai, mereka ingin dekat satu sama lain, kemudian sel sperma yang dimiliki pria bersatu dengan sel telur yang ada dalam perut wanita, dan jadilah calon bayi yang tumbuh dalam perut wanita.





Topik pembicaraan saat anak menjelang masa pubertas :
+ Perubahan fisik anak perempuan (tinggi, bentuk tubuh, tumbuhnya payudara, rambut)
+ Perubahan fisik anak laki-laki (tinggi, bentuk tubuh, otot, pertumbuhan penis dan testis, tumbuhnya rambut)
+ Perubahan suara anak laki-laki
+ Menstruasi pada anak perempuan
+ Mimpi basah pada anak laki-laki
+ Hubungan seksual, pembuahan, dan kehamilan
+ Munculnya gairah seksual pada anak laki-laki maupun perempuan
+ Masalah jerawat dan keringat berlebih
+ Ketidakstabilan emosi atau perubahan emosi yang menyertai masa puber

+ Menjalin relasi dengan lawan jenis, pacaran, kencan, perilaku seksual (apa yang mungkin terjadi saat kencan), berbicara asertif terhadap pacar

Tips menanamkan nilai
Usaha orangtua untuk memberikan pendidikan seksualitas kepada anak umumnya dilatarbelakangi oleh motivasi orangtua untuk menanamkan nilai-nilai seksualitas. Orangtua mempunyai harapan besar agar anak tidak sampai salah langkah dalam kehidupan seksualitasnya, sehingga anak mempunyai kehidupan seksualitas yang bahagia. Ini merupakan suatu hal yang sangat baik, hanya saja sayangnya, motivasi dan harapan orangtua tersebut seringkali membuat pendidikan seksualitas yang diberikan terlalu fokus pada usaha untuk menasihati anak agar bertingkah laku tertentu. Anak pun jadi merasa bosan dan tidak suka diajak bicara orangtua, dan akhirnya, penanaman nilai justru menjadi tidak efektif.
Dalam menanamkan nilai, orangtua perlu menjaga keseimbangan antara pengajaran nilai dan pengakuan akan aspek positif dari seksualitas. Hindari mengarahkan pembicaraan semata-mata hanya untuk menyampaikan pesan-pesan saja tanpa mengakui bahwa aktivitas seksual merupakan salah satu bagian kehidupan yang indah dan bisa dinikmati. Kebanyakan orangtua khawatir bahwa mengakui aspek positif dari seksualitas akan membuat anak lebih termotivasi untuk berhubungan seks, padahal sesungguhnya, dengan mengakui aspek positif dari seksualitas, orangtua justru membuat pintu hati anak terbuka lebih lebar untuk menerima nilai-nilai yang akan diajarkan. Sikap jujur orangtua akan menciptakan kesan di mata anak bahwa orangtua merupakan figur yang menarik untuk diajak bicara seputar seksualitas.
Anak perlu memahami hakikat seks sebagai perwujudan relasi yang begitu intim dengan seseorang. Seks tidak ada artinya jika dilakukan tanpa sebuah relasi intim, mengingat setiap manusia punya kebutuhan yang lebih mendasar daripada sekedar kebutuhan fisik, yaitu kebutuhan akan relasi intim dengan seseorang.
Usaha untuk menghindarkan anak dari hubungan seksual pra nikah bisa dilakukan dengan mengajarkan bahwa orang bisa menikmati rasa bahagia yang timbul dari sebuah kedekatan tanpa harus berhubungan seks. Hubungan seks juga bukan satu-satunya cara mengekspresikan kasih sayang dan keintiman. Pada seks yang membahagiakan, juga melekat tanggung jawab, selain tanggung jawab untuk menghadapi segala konsekuensi yang timbul akibat hubungan seks tersebut, juga tanggung jawab untuk memperhatikan kebutuhan pasangan dan menjaga relasi dengan pasangan.

Berbagai kesempatan bisa digunakan orangtua untuk membicarakan seksualitas sembari menanamkan nilai-nilai. Saat anak bertanya, saat berjalan-jalan di mal, atau saat melihat iklan televisi, semuanya bisa digunakan sebagai jalan untuk membuka pembicaraan, apalagi sekarang ini seksualitas sangat sering digunakan sebagai daya tarik dalam pesan-pesan komersial (ingat, bicara tentang seksualitas tidak sesempit bicara soal arti hubungan seksual saja). Kesediaan orangtua untuk mendiskusikan hal seputar seksualitas akan membuat anak menyadari bahwa orangtua adalah sosok yang tepat untuk diajak bicara, sehingga tidak perlu mencari informasi dari sumber-sumber lain, dan tak hanya itu saja, kesediaan orangtua membicarakan hal-hal seputar seksualitas menjaga pintu komunikasi antara orangtua dan anak selalu terbuka. Ketika anak merasa nyaman membicarakan hal seputar seksualitas dengan orangtua, orangtua bisa yakin bahwa anak akan terbuka juga untuk membicarakan banyak hal lain. 


Last reviewed : Juli 2014

Baca lebih lanjut...

Minggu, 21 Februari 2010

Mendidik Anak Menjadi Pribadi yang Jujur


Kejujuran adalah salah satu nilai moral yang pada umumnya ingin orangtua tanamkan pada diri anak. Jujur mengacu pada arti penuh kebenaran, dapat dipercaya dalam segala hal, bertindak dengan adil, dan tulus. Kejujuran tidak hanya membawa kebaikan untuk orang lain, melainkan juga untuk diri sendiri. Dengan menjadi jujur, kita merasa damai, tenteram, dan bahagia. Dalam usaha mendidik anak supaya menjadi pribadi yang jujur, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan orangtua. Berikut ini akan dibahas apa saja yang bisa dilakukan orangtua untuk membimbing anak menjadi pribadi yang jujur.

Mengajarkan pentingnya kejujuran
Katakan berulang kali kepada anak bahwa jujur membuat kita merasa damai dan tenteram, sebaliknya, bohong membuat kita merasa khawatir dan gelisah. Ajarkan bahwa bohong membuat diri kita menjadi orang yang tidak dipercaya. Semua orang ingin diperlakukan jujur, diberi tahu sesuai fakta, oleh karena itu, jika kita membohongi orang berarti kita tidak menghargai dan mencintai orang yang kita bohongi itu.

Tidak mengajarkan tentang prinsip ‘bohong demi kebaikan’
Apabila orangtua mengatakan bahwa ada kebohongan yang ditujukan untuk kebaikan, anak akan menangkap bahwa bohong bukan sesuatu yang mutlak salah, dan ia akan berpikir bahwa bohong boleh-boleh saja dilakukan dalam situasi tertentu. Beri tahu anak bahwa tidak ada satupun orang yang lebih senang dibohongi, oleh karenanya, dalam keadaan apapun juga, bohong tetap salah. Lebih baik berkata, “Aku tidak ingin mengatakannya,” atau “Aku tidak ingin menjawab,” daripada mengatakan sebuah kebohongan.

Memberikan model/contoh kejujuran
Orangtua harus memberikan teladan bagaimana mempraktikkan kejujuran, sebab anak tidak akan menghormati pengajaran orangtua tentang kejujuran jika ia melihat bahwa orangtuanya sehari-hari bukanlah seorang pribadi yang jujur. Kadang orangtua tidak menyadari bahwa kesalahan-kesalahan sepele yang dilakukan membuat anak memandang bahwa orangtua tidak jujur. Misalnya saja ketika orangtua diam-diam menyelinap keluar rumah dan meninggalkan anak tanpa pemberitahuan, ketika orangtua tidak menepati janji untuk jalan-jalan di akhir pekan, atau ketika orangtua menyuruh anak memberitahu seorang tamu tak dikehendaki bahwa orangtua sedang pergi meski sebenarnya orangtua di rumah. Untuk menjadi model yang jujur, sebaiknya orangtua tidak berbohong kepada anak, tidak mengingkari janji dengan anak yang telah dibuat, mau mengakui kesalahan, dan juga tidak berbohong kepada orang lain.

Menunjukkan penerimaan dan kasih sayang tanpa syarat
Ketika tuntutan orangtua tidak berlebihan, dan anak merasa diterima, disayangi apa adanya, anak akan menjadi pribadi yang nyaman dengan dirinya sendiri, yang berpikir bahwa tidak perlu menjadi orang lain untuk menyenangkan orangtuanya. Penerimaan yang tulus dari orangtua juga membuat anak tidak terlalu takut saat menemui fakta bahwa dirinya gagal atau melakukan suatu kesalahan, sehingga pengakuan jujur bukanlah hal yang sulit dilakukan. Menunjukkan penerimaan terhadap anak tidak berarti bahwa orangtua setuju terhadap segala perilaku anak. Saat anak melakukan kesalahan, orangtua boleh-boleh saja menegur bahkan menghukum. Anak yang terbiasa diperlakukan dengan kasih sayang pasti bisa mengetahui bahwa amarah, teguran, atau hukuman dari orangtua itu tidak cukup menjadi bukti bahwa orangtua tidak lagi menyayangi dirinya.

Memberikan penghargaan atas kejujuran anak
Anak akan merasa senang jika orangtua memperhatikan usahanya untuk berlaku jujur. Tunjukkan penghargaan saat anak mengembalikan uang sisa beli gula, saat anak memanggil orang yang uangnya terjatuh di jalan, saat anak berusaha mengerjakan prakarya sendiri meski mengetahui teman-temannya dibantu oleh orangtua mereka, juga ketika anak tidak menyontek hingga nilai ulangannya jelek. Seringkali orangtua mengabaikan kejujuran anaknya yang memilih mendapat nilai jelek daripada menyontek. Begitu melihat nilai anak yang jelek, orangtua langsung marah. Ketika anak mengakui kesalahannya dengan jujur, sebelum marah atau menghukum anak, tunjukkan dulu bahwa Anda menghargai kejujurannya, misalnya dengan berkata, “Mama sedih dan kecewa kamu memecahkan boneka keramik kesayangan mama, tapi mama senang kamu berani mengakui kesalahanmu. Mama bangga punya anak jujur seperti kamu.”

Tidak memberikan aturan berlebihan
Saat orangtua terlalu membatasi anak, sebagian anak memilih untuk menipu orangtuanya demi mencuri kebebasan. Oleh karena itu, sebaiknya orangtua hanya membuat larangan untuk hal-hal yang penting saja.

Menghindari kebiasaan menyalahkan, dan memberi hukuman berlebihan
Apabila orangtua terbiasa mengkritik, menyalahkan, atau memberi hukuman berlebihan, anak akan menjadi terlalu takut saat melakukan suatu kesalahan. Akibatnya, ia akan berusaha menutup-nutupi kesalahannya agar terhindar dari hukuman atau olok-olok orangtua. Ketika anak melakukan kesalahan, lebih baik orangtua mengajak anak bangkit dari kesalahan dan mencari solusi atas masalah yang dibuatnya. Menyadarkan anak akan kesalahannya memang perlu, namun tidak perlu dilakukan dengan cara terus-menerus menyalahkan anak. Saat anak bersalah, jelaskan tindakannya yang mana yang salah, mengapa tindakan itu salah, dan apa yang orang lain inginkan. Dalam mengarahkan perilaku anak, sebaiknya orangtua lebih banyak menggunakan metode pujian daripada hukuman, artinya orangtua berfokus pada usaha untuk memuji, memberikan perhatian saat anak menunjukkan perilaku yang baik, daripada berfokus untuk menegur saat anak berperilaku buruk.

Di atas semuanya, orangtua perlu menunjukkan kepercayaan kepada anak. Dipercaya orangtua merupakan kebanggaan tersendiri bagi seorang anak, dan karenanya, ia akan berjuang sekuat tenaga untuk menjaga kepercayaan tersebut.


Sumber inspirasi :

Schaefer, C.E., Millman, H.L. 1981. How to Help Children with Common Problems. New York : Van Nostrand Reinhold Company.



Baca lebih lanjut...

Selasa, 18 Agustus 2009

Membentuk Sikap yang Sehat terhadap Seksualitas

Sikap yang sehat terhadap seksualitas penting dimiliki manusia untuk mencapai perkembangan seksual yang baik. Kita semua mengetahui bahwa perkembangan seksual yang baik membawa manusia pada kehidupan yang utuh dan bahagia. Sikap terhadap seksualitas yang dimaksud di sini tidak sekedar menunjuk pada sikap seseorang terhadap hubungan seksual, melainkan lebih luas daripada itu, mencakup bagaimana seseorang memandang tubuhnya yang berkaitan dengan fungsi seksual. Seksualitas merupakan sebuah karunia indah yang tercipta untuk manusia, dan ditujukan untuk membawa manusia pada kebahagiaan. Oleh karena itu, sudah sepantasnya manusia memandang seksualitas secara positif. Hanya dengan memandang seksualitas secara positif, manusia bisa menikmati dengan baik salah satu aspek dari kehidupan yang indah ini.
Proses pembentukan sikap terhadap seksualitas berlangsung perlahan-lahan, dimulai dari masa kanak-kanak. Seorang anak belajar dari lingkungannya tentang bagaimana menyebut alat kelaminnya, bagaimana alat kelamin tersebut membuatnya menjadi makhluk yang berbeda dengan lawan jenis, dan juga mempelajari bagaimana cara memperlakukan bagian tubuhnya yang khusus itu. Ketika ia tumbuh besar, ia akan mempelajari bahwa alat kelaminnya mempunyai fungsi sebagai alat reproduksi. Semua proses ini tentu saja tak lepas dari peran orangtua. Melalui pengasuhan yang tepat, orangtua bisa mengusahakan agar anaknya mempunyai sikap yang sehat terhadap seksualitas. Berikut ini akan dibahas lewat hal-hal apa saja orangtua bisa mulai menanamkan sikap yang sehat terhadap seksualitas.


Langkah-langkah membentuk sikap sehat terhadap seksualitas :
Memberikan pengalaman menyenangkan dalam toilet training
Pengalaman pertama anak menyadari keberadaan alat kelaminnya adalah ketika ia buang air kecil. Pengalaman latihan buang air kecil (
toilet training) membuat anak mengembangkan perasaan positif atau negatif berkaitan dengan fungsi alami alat kelamin sebagai alat pengeluaran sisa metabolisme tubuh. Anak yang melihat orangtuanya
bersikap positif terhadap aktivitas buang air kecilnya, akan merasa nyaman dan rileks dengan proses alami tubuh tersebut, sehingga selanjutnya anak tersebut juga akan merasa nyaman dengan bagian tubuhnya yang berfungsi untuk pembuangan tersebut, yaitu alat kelaminnya. Orangtua dapat menunjukkan sikap positif dalam proses toilet training dengan cara tidak memarahi anak yang mengompol di celana, tidak menunjukkan sikap jijik terhadap celana yang kotor, dan bersabar ketika mengajak anak buang air kecil.
Bereaksi wajar terhadap ketelanjangan anak
Orangtua memang harus mengajarkan kepada anak bahwa alat kelamin adalah bagian tubuh yang paling pribadi dan perlu diberi privasi khusus. Akan tetapi, menunjukkan sikap negatif berlebihan saat anak telanjang atau membiarkan alat kelaminnya terlihat, sebaiknya dihindari, karena hal ini bisa membuat anak memandang bahwa alat kelamin adalah bagian tubuh yang buruk dan memalukan. Anak perlu mengembangkan pandangan yang positif terhadap anatomi tubuhnya, tak terkecuali alat kelaminnya. Anak semestinya memandang bahwa alat kelamin merupakan bagian tubuh yang sama baiknya dengan bagian tubuh lainnya. Aktivitas bertelanjang yang dilakukan anak, memberikan kesempatan kepadanya untuk belajar mengembangkan kesadaran seksual yang positif.
Sesungguhnya, terkait dengan hal ini, ada manfaat yang bisa diperoleh dari sikap orangtua yang mau membiarkan anak melihat ketelanjangan orangtuanya. Orangtua yang tidak keberatan bertelanjang di depan anak, menunjukkan bahwa diri mereka merasa sungguh-sungguh nyaman dengan tubuh mereka. Hal ini secara tidak langsung akan mendorong anak untuk merasa nyaman dengan tubuh mereka sendiri. Akan tetapi, bagi orangtua yang tidak sungguh-sungguh bersedia bertelanjang di depan anak, sebaiknya tidak memaksakan diri bertelanjang di depan anak, karena anak bisa menangkap rasa tidak nyaman yang ada pada orangtuanya, dan hal ini justru tidak menguntungkan bagi pengembangan sikap positif anak terhadap alat kelaminnya.
Bereaksi wajar terhadap masturbasi yang dilakukan anak
Masturbasi merupakan sesuatu hal yang normal dilakukan anak yang sedang belajar mengenali bagian-bagian tubuhnya (usia 2-3 tahun). Sekalipun orangtua merasa malu melihat aktivitas masturbasi yang dilakukan anak, sebaiknya orangtua tidak menunjukkan reaksi negatif berlebihan. Anak perlu mengetahui bahwa alat kelaminnya memang bisa membawa perasaan nikmat yang khusus bila ia menyentuhnya. Sifat alat kelamin yang membawa kenikmatan ini perlu diterima anak secara positif, bukannya malah ditolak sebagai sesuatu yang buruk. Ketika melihat anak melakukan masturbasi, berikan pengakuan bahwa alat kelamin memang merupakan bagian tubuh yang nyaman untuk disentuh. Orangtua tidak perlu mengkhawatirkan bahwa penerimaannya terhadap masturbasi yang dilakukan anak akan membuat anak akan melakukan masturbasi juga di hadapan orang-orang lain. Anak secara alami mengetahui bahwa tindakan masturbasi adalah tindakan yang bersifat pribadi, sehingga ia akan melakukannya dengan tetap menjaga privasi diri. Orangtua juga tidak perlu khawatir bahwa penerimaannya terhadap masturbasi akan membuat anak akan terus-menerus melakukan masturbasi. Percayalah bahwa ada banyak sekali kegiatan yang menarik bagi anak, yang lebih menarik daripada kegiatan masturbasi. Apabila seorang anak menghabiskan sebagian besar waktunya hanya untuk melakukan masturbasi, dapat dipastikan ada masalah lain di baliknya. Masturbasi berlebihan bisa dilakukan anak sebagai pelarian dari rasa sedih dan kecewa akibat penolakan lingkungan (anak merasa tidak dicintai orangtua atau teman), pengalaman kegagalan yang terus-menerus, atau terlalu sedikitnya sumber kesenangan dalam hidup.
Kebanyakan anak melakukan masturbasi. Melarang mereka melakukan masturbasi jarang efektif membuat mereka mengurangi aktivitas tersebut. Sikap negatif orangtua terhadap masturbasi hanya akan membuat mereka mengasosiasikan kegiatan memperoleh kenikmatan seksual dengan rasa bersalah dan cemas.
Bersikap terbuka dalam diskusi mengenai seksualitas
Keterbukaan orangtua dalam diskusi dengan anak mengenai hal-hal berkaitan dengan seksualitas, selain berpengaruh positif terhadap pembentukan sikap sehat anak terhadap seksualitas, juga sangat berpengaruh terhadap kesediaan anak untuk menjadikan orangtua sebagai sumber informasi mengenai hal-hal seputar seksualitas. Ketika anak merasa bahwa orangtua bisa diajak bicara dengan nyaman mengenai topik-topik seksualitas, anak akan tidak sungkan untuk menanyakan apa saja yang ingin dimengertinya sehubungan dengan seksualitas. Penelitian menemukan bahwa kebanyakan remaja sesungguhnya menginginkan agar ibu atau ayahnya lah yang menjadi sumber utama informasi mengenai seksualitas. Sayangnya, harapan mereka ini justru tidak terpenuhi, sehingga kemudian mereka mencari informasi dari teman-teman dan sumber-sumber lain yang berpotensi besar memberikan informasi yang salah.
Orangtua tidak perlu mengkhawatirkan bahwa anak yang memiliki pengetahuan banyak mengenai seksualitas akan lebih tertarik untuk melakukan aktivitas seksual. Berdasarkan penelitian-penelitian, hal ini terbukti tidak benar. Justru ketika anak tidak mempunyai pengetahuan yang memadai mengenai seksualitas, anak berkecenderungan besar untuk terjerumus dalam petualangan seksual yang tidak sehat. Petualangan seksual yang tidak sehat yang dimaksudkan antara lain adalah kehamilan yang tidak diinginkan, relasi yang eksploitatif, hubungan seksual yang menularkan penyakit menular seksual. Hasil penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa remaja yang orangtuanya memainkan peran terbesar dalam pendidikan seksualitas mereka, lebih kecil kemungkinannya terlibat dalam aktivitas seksual dini, dibandingkan dengan remaja yang kurang mendapat informasi mengenai seksualitas. Oleh karena itu, untuk mengarahkan anak kepada perilaku seksual yang tepat, jalan yang harus ditempuh orangtua adalah membekali anak dengan informasi yang benar mengenai seksualitas.
Menunjukkan model relasi intim kedua orangtua yang indah
Anak perlu memahami bahwa interaksi intim pria dan wanita lebih dari sekedar upaya mendatangkan kepuasan fisik seksual semata-mata, melainkan bahwa interaksi intim pria dan wanita merupakan sesuatu yang sangat indah, yang sarat makna, yaitu saling cinta, saling peduli, di mana masing-masing saling memikirkan kebahagiaan pasangan. Oleh karena sisi indah dari interaksi intim pria dan wanita seringkali gagal ditampilkan media yang lebih sering menayangkan interaksi seksual yang eksploitatif dan egois, peran orangtua menjadi sangat penting dalam memberikan model interaksi intim pria-wanita yang positif. Biarkan anak melihat kedua orangtuanya saling mencintai dengan indahnya. Jangan sungkan untuk menunjukkan aktivitas spontan yang menunjukkan cinta di antara Anda berdua, saling peluk, saling cium, berangkulan, dan sebagainya. Hal ini akan membuat anak mengetahui bahwa relasi kedua orangtuanya indah karena diwarnai dengan kehangatan dan rasa saling peduli.
Satu hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa orangtua sebaiknya menghindarkan anak dari menyaksikan hubungan seksual kedua orangtuanya. Anak-anak yang belum mengerti benar tentang aktivitas seksual sering kali salah tafsir ketika melihat hubungan seksual orangtuanya. Mereka sulit memahami bahwa hubungan seksual dinikmati oleh kedua orangtuanya (ingat, mereka sama sekali belum merasakan gairah seksual), sebaliknya, mereka justru berpikir bahwa hubungan seksual merupakan tindakan kejam yang dilakukan ayah untuk menyakiti ibu. Salah tafsir seperti ini bisa mengakibatkan anak mengalami trauma psikis dan membuat anak memandang negatif hubungan seksual sampai waktu yang lama sesudahnya. Seandainya anak terlanjur melihat hubungan seksual kedua orangtuanya, penting bagi orangtua untuk menjelaskan kepada anak bahwa aktivitas yang baru saja dilihat anak tersebut adalah aktivitas yang dilakukan ayah-ibu untuk saling menunjukkan rasa sayang. Yakinkan anak, bahwa ayah dan ibunya memang sengaja melakukan hubungan seksual itu karena saling mencintai. Akan tetapi, mengingat bahwa anak-anak cenderung salah menafsirkan hubungan seksual orangtuanya, ditambah lagi, mereka seringkali sungkan menanyakan kepada orangtuanya tentang hal ini sekalipun tidak memahami apa yang terjadi, lebih baik jika orangtua mencegah agar anak tidak sampai melihat hubungan seksual kedua orangtuanya.
Dengan menunjukkan model sebuah relasi yang indah antara kedua orangtua, sesungguhnya orangtua juga sedang mengembangkan sikap positif anak terhadap lawan jenisnya. Apabila anak melihat bahwa ayah dan ibunya bisa saling berbagi, saling menghargai, dan bekerja sama dengan baik, maka anak akan memperoleh gambaran positif tentang relasi dengan lawan jenis. Sosok orangtua yang dialami anak akan cenderung digeneralisasikan anak pada orang-orang dengan jenis kelamin yang sama. Sosok ayah akan berpengaruh terhadap cara seorang anak perempuan memandang sosok pria, dan sosok ibu akan berpengaruh terhadap cara seorang anak laki-laki memandang sosok wanita. Anak yang mengalami sosok ayah sebagai pribadi yang menyenangkan, akan mempunyai sikap lebih positif terhadap kaum pria, begitu pula dengan anak yang mengalami sosok ibu sebagai pribadi yang menyenangkan, ia akan bersikap lebih positif pula terhadap kaum wanita. Aspek yang penting dalam relasi antarkedua orangtua yang perlu ditunjukkan kepada anak adalah kerelaan untuk berbagi tanggung jawab keluarga dengan tidak memegang stereotip jender tradisional secara kaku. Biarkan anak melihat bahwa ayahnya tidak semata-mata menjadikan ibunya sebagai tukang masak, tukang cuci, atau tukang bersih-bersih tanpa mau sedikitpun ikut campur dalam tugas-tugas tersebut. Sesekali, ayah sebaiknya mau membantu ibu mengisi ceret dan memasak air, dan ibu membantu ayah memompa ban sepeda atau mengisikan air radiator.



Sumber inspirasi :
Crooks, R., Baur, K., 1983. Our Sexuality, second edition. California : Benjamin/Cumming Publishing Company, Inc.
Schaefer, C.E., Millman, H.L. 1981. How to Help Children with Common Problems. New York : Van Nostrand Reinhold Company.

Baca lebih lanjut...

Mengembangkan Kreativitas Anak


Kreativitas merupakan faktor penting yang mendukung seseorang untuk mencapai kesuksesan. Bila kita mengamati orang-orang yang sukses, kita mendapati bahwa kesuksesan mereka bukan semata-mata karena inteligensi mereka yang tinggi, namun lebih merupakan hasil keberanian mereka untuk membuat lompatan yang tidak biasa. Mereka berani membuat sesuatu yang baru, berpikir lain daripada kebiasaan orang, atau dengan kata lain, memanfaatkan kreativitas mereka untuk membuat sesuatu terobosan yang unik.
Proses pendidikan sangat berpengaruh terhadap perkembangan kreativitas seorang anak. Pendidikan yang dimaksud bukan hanya pendidikan di sekolah, melainkan juga pendidikan di rumah oleh orangtua. Orangtua, sebagai pendidik pertama dan utama bagi seorang anak, mempunyai kesempatan istimewa untuk membangkitkan kreativitas anak, sebab dari figur orangtua lah seorang anak pertama kali mengembangkan cara berpikir dan membentuk sikap belajarnya.
Bagaimana orangtua bisa memaksimalkan perkembangan kreativitas anak? Berikut ini disajikan beberapa langkah yang bisa diambil orangtua untuk membangkitkan kreativitas anak.


Bangunlah konsep diri positif pada diri anak
Tunjukkan bahwa Anda mencintai dirinya karena pribadinya bukan mencintai karena apa yang dapat dilakukannya. Ekspresikan kasih sayang Anda dengan cara-cara yang spontan.
Terimalah keunikan anak, segala kelebihan maupun kelemahannya.
Libatkan anak pada aktivitas atau tugas yang mengandung tantangan namun memberinya kesempatan untuk berhasil.


Bangkitkan minat anak
Perkenalkan anak pada berbagai aktivitas, melukis, bermain musik, mengarang cerita, menari, membuat kerajinan tangan, dan lain-lain.
Perkenalkan anak kepada tokoh atau orang-orang kreatif yang bisa menjadi inspirasinya, berikut karya-karya mereka yang mengagumkan.


Kembangkan cara berpikir anak
Dorong anak untuk mengemukakan pendapat atau gagasannya, dan hargai pendapat anak, sekalipun mungkin pendapat anak itu berbeda dengan pendapat orangtua.
Dukung anak ketika ia berani mengambil sikap berbeda dari orang-orang sekitarnya.
Ajak anak untuk memikirkan beberapa alternatif solusi ketika menemui sebuah masalah.
Dorong anak untuk bersikap kritis dalam menganalisis situasi dan juga bersikap kritis pada cara berpikir mereka sendiri.


Dukung anak mengembangkan keterampilan sesuai bakatnya
Berikan pelatihan terstruktur untuk mengembangkan keterampilan yang ingin dikuasainya, namun tetap beri ruang untuk ekspresi bebasnya.
Ajar anak untuk membangun disiplin diri, terutama dalam hal mengarahkan diri pada tujuan yang ingin dicapainya.
Komunikasikan kepercayaan Anda akan kemampuannya. Biarkan anak berusaha menguasai keterampilan apa saja yang ingin ia kuasai, sekalipun menurut Anda itu terlalu sulit baginya. Ketika anak menemui kesulitan, jangan terburu-buru untuk memberi bantuan, melainkan biarkan ia berusaha terlebih dahulu.
Beri pujian pada usahanya, tidak hanya pada hasil atau prestasi yang diraihnya.
Tingkatkan target secara berangsur-angsur. Ketika anak telah menguasai tahap tertentu, beri anak tantangan yang sedikit lebih berat namun masih mungkin diatasinya.


Ikuti irama anak
Berikan pelatihan terstruktur atau pelajaran formal pada saat anak telah siap menerimanya. Mengajarkan terlalu dini tidak membuat anak menjadi lebih sukses, melainkan justru bisa membuat anak kehilangan minatnya untuk belajar. Pada umumnya anak baru siap menerima pelatihan formal pada usia 8 tahun. Sebelum anak siap menerima pelatihan formal, biarkan anak bersenang-senang dengan aktivitas yang diminatinya.
Berhati-hatilah supaya ambisi Anda tidak menekan anak. Ambisi orangtua yang berlebihan malah bisa melenyapkan minat anak itu sendiri.


Berikan batasan sekaligus ruang gerak untuk anak
Berikan arahan yang tegas untuk hal-hal yang menyangkut nilai-nilai yang penting bagi Anda, tetapi bersikaplah fleksibel pada hal-hal yang lain, dan biarkan anak tumbuh menjadi diri mereka sendiri.
Dorong anak untuk mengekspresikan perasaan-perasaannya, namun beri pengarahan mengenai bentuk-bentuk ekspresi yang dapat diterima, yaitu yang baik bagi diri anak dan juga tidak mengganggu orang-orang di sekitar.


Sumber inspirasi :

Einon, D., 2002. Anak Kreatif (alih bahasa : Alexander Sindoro). Batam : Karisma Publishing Group.
Baca lebih lanjut...

Meletakkan Landasan yang Kokoh bagi Perkembangan Moral Anak

Masa kanak-kanak merupakan masa emas bagi pembentukan moral. Pada masa ini, jika suatu landasan moral yang baik telah berhasil ditanamkan, landasan moral tersebut selanjutnya akan menjadi penuntun individu dalam bertingkah laku seumur hidupnya. Atas dasar inilah, orangtua perlu segera bergerak melakukan upaya-upaya untuk menanamkan nilai-nilai moral sejak anak masih kecil.
Ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan orangtua sebagai langkah awal menanamkan nilai moral.

Yang pertama, orangtua perlu menyadari terlebih dahulu nilai-nilai yang diyakini atau dijunjung tinggi secara pribadi. Dengan demikian, orangtua bisa menentukan nilai-nilai yang menjadi prioritas untuk ditanamkan pada diri anak. Ambillah waktu untuk memikirkan nilai-nilai apa saja yang Anda anut, yang selama ini sungguh-sungguh Anda pegang, dan yang ingin Anda tanamkan pada anak. Sebagai contoh, mungkin nilai kejujuran lah yang Anda junjung, atau nilai penghargaan terhadap orang lain, atau nilai cinta kasih.

Langkah persiapan yang kedua adalah membuat komitmen pribadi untuk mendidik anak berperilaku baik, yang mana komitmen tersebut selanjutnya akan selalu Anda jaga dengan sungguh-sungguh. Penelitian menemukan bahwa orangtua yang teguh dan ulet dalam mendidik anaknya supaya anaknya berperilaku baik, sungguh-sungguh berhasil mengubah anaknya. Oleh karena itu, jika Anda ingin menumbuhkan moral anak, buatlah komitmen pribadi untuk menumbuhkan suatu perilaku moral, dan bertahanlah berusaha hingga anak benar-benar dapat berperilaku baik seperti yang diharapkan.
Langkah persiapan berikutnya adalah mempunyai harapan yang positif terhadap anak. Orangtua harus selalu mengharapkan anak bertindak sesuai nilai-nilai, dan percaya bahwa anak mampu melakukannya. Anak akan bertindak sesuai nilai mo
ral jika ia tahu bahwa orangtuanya memang mengharapkan mereka demikian, dan mereka lebih termotivasi saat mengetahui bahwa orangtua mempercayai bahwa mereka mampu melakukan apa yang baik tersebut. Memberi kepercayaan kepada anak terbukti lebih efektif mendorong anak untuk melakukan perilaku yang diharapkan daripada menekan dengan paksaan atau mengancam dengan hukuman.

Berikut ini akan diuraikan mengenai apa saja yang bisa dilakukan orangtua untuk mendorong tumbuhnya moral yang baik pada diri anak.

Memberikan pengalaman interaksi yang menyenangkan
Pengalaman yang menyenangkan dalam berinteraksi dengan orang lain membuat anak tertarik pada orang lain dan berminat untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Minat dan ketertarikan terhadap orang lain ini selanjutnya mendorong anak untuk bersedia melakukan perbuatan yang baik bagi orang lain.
Interaksi dengan orang lain yang pertama kali dialami anak adalah interaksinya dengan orangtua sebagai pengasuhnya. Dengan demikian, pengalaman interaksi anak dengan orangtua tersebut menjadi sangat penting, karena dari interaksi inilah anak meyakini bahwa interaksi dengan orang lain merupakan suatu hal yang menyenangkan atau tidak menyenangkan. Apabila interaksi dengan orangtua dialami anak sebagai suatu hal yang menyenangkan baginya, anak pun selanjutnya akan meyakini bahwa interaksi dengan orang lain merupakan hal yang menyenangkan, begitu pula sebaliknya.
Sejak anak masih bayi, orangtua bisa memberikan pengalaman yang menyenangkan dengan cara bersikap responsif terhadap kebutuhan bayi. Orangtua yang merawat bayi dengan baik, yang peka terhadap tanda-tanda yang ditunjukkan bayi ketika bayi membutuhkan sesuatu, dan selalu siap sedia memenuhi kebutuhan bayi, membuat bayi merasa aman. Tunjukkanlah kasih sayang Anda dengan banyak memberinya sentuhan fisik, memeluk, membelai, mencium, sehingga anak merasa nyaman berada dekat Anda.
Pengalaman positif yang dirasakan anak dari interaksi bersama orangtua sesungguhnya memberikan pengaruh sangat besar dalam membangun landasan moral anak. Pengalaman interaksi yang positif ini memberikan manfaat bagi perkembangan moral anak melalui 4 jalan sebagai berikut :


Menumbuhkan minat dan ketertarikan terhadap orang lain. Rasa aman dan nyaman yang dirasakan anak dalam interaksi bersama orangtua, membuat anak merasakan bahwa interaksi dengan orang lain, adalah suatu hal yang menyenangkan, sehingga kemudian anak pun menjadi tertarik untuk berinteraksi dengan orang lain. Saat anak mempunyai minat dan ketertarikan terhadap orang lain, kecenderungannya untuk memperhatikan orang lain menjadi lebih besar, dan ia pun menjadi lebih bersedia untuk melakukan perbuatan yang baik bagi orang lain.
Membuat anak mengembangkan kepekaan terhadap perasaan orang lain. Dengan disayangi, diperhatikan perasaannya dan kebutuhannya, anak belajar untuk peka dan peduli terhadap kebutuhan dan perasaan orang lain. Pengalaman dibesarkan dalam suasana penuh kasih sayang dan kelembutan, menjadikan anak lebih sensitif terhadap perasaan orang lain. Perasaan yang sensitif ini juga membuat anak menjadi mudah menyadari kesalahannya ketika ia melakukan sesuatu hal yang buruk terhadap orang lain.
Mengajarkan bahwa semua orang pantas dicintai. Pengalaman dicintai yang dirasakan anak dalam interaksi dengan orangtua, secara tidak langsung memberikan pesan kepada anak bahwa semua orang pantas dicintai dan oleh karenanya melakukan perilaku yang melukai orang lain merupakan sebuah kesalahan. Pemahaman ini selanjutnya mendorong anak untuk berperilaku baik kepada orang lain dalam interaksi yang dijalinnya.
Menumbuhkan harga diri pada diri anak. Kasih sayang yang ditunjukkan orangtua kepada anak, membuat anak mengembangkan konsep diri yang positif atau membuat anak merasa bahwa dirinya berharga. Perasaan berharga ini akan memberikan kekuatan bagi anak untuk mampu berbuat baik kepada orang lain.

Memberi teladan perilaku moral yang baik
Memberikan teladan adalah cara paling efektif membentuk anak menjadi pribadi yang bermoral baik. Karena orangtua adalah figur yang berada paling dekat dengan anak, yang sehari-hari diamati anak, orangtua harus menunjukkan perilaku-perilaku yang baik, termasuk memberikan perlakuan yang baik terhadap anak itu sendiri. Perlakukan anak dengan penuh kasih sayang dan penghargaan, sehingga anak dapat belajar untuk memperlakukan orang lain juga dengan kasih sayang dan penuh penghargaan. Selain orangtua, anggota-anggota keluarga yang lain juga perlu menunjukkan perilaku yang baik dalam berinteraksi. Anak yang tumbuh dalam keluarga yang punya kebiasaan saling berbagi, akan tumbuh menjadi orang yang tidak egois dan rela berbagi dengan sesamanya.


Melatih anak untuk mengendalikan diri
Untuk dapat melakukan tindakan yang baik secara moral, seseorang harus memiliki kemampuan untuk mengendalikan diri, sebab untuk menjaga tingkah lakunya tetap baik, sering kali orang perlu menahan diri dari godaan, menekan keinginan-keinginannya pada situasi tertentu, dan bersabar. Seorang anak yang masih sangat kecil memiliki kecenderungan bertindak impulsif, begitu menginginkan sesuatu, ia akan segera melakukan usaha apapun untuk memenuhinya, entah dengan merebut, memaksa orang lain, atau melakukan hal lain tanpa peduli pada situasi dan akibatnya bagi orang lain, karena ia belum dapat menunda keinginannya. Akan tetapi, orangtua bisa membantu anak untuk secara perlahan-lahan mengembangkan kemampuan mengendalikan diri. Cara-cara yang bisa digunakan orangtua untuk mengajarkan pengendalian diri antara lain sebagai berikut :
-Menyediakan kontrol dari luar. Memberikan batasan dan memberlakukan konsekuensi atas perilaku anak akan mendorong anak berlatih untuk mengendalikan dirinya.
-Tidak selalu memenuhi keinginan anak dengan segera. Anak perlu memahami bahwa pada situasi tertentu, ia tidak bisa langsung memperoleh apa yang diinginkannya.
-Mengajarkan cara mengatasi perasaan negatif akibat keharusan menunda keinginan. Anak bisa diajari untuk mengalihkan perhatiannya kepada hal lain ketika ia harus menunggu keinginannya terpenuhi, atau menyalurkan perasaan frustrasinya ketika keinginannya tidak terpenuhi lewat kegiatan-kegiatan yang tepat. Apabila anak masih sangat kecil, orangtua bisa membantu menenangkan ketika anak menangis atau marah-marah.
-Mengajari anak untuk terbiasa memikirkan akibat yang mungkin terjadi bila melakukan suatu perilaku.
-Memberikan contoh pengendalian diri yang baik.
Mengajarkan perilaku yang baik
Prinsip-prinsip moral bisa diajarkan sejak anak kecil, yaitu dengan menjelaskan tentang perilaku mana yang baik untuk dilakukan dan perilaku mana yang kurang baik. Dalam mengajari anak tentang perilaku yang baik dan yang buruk, orangtua juga harus menjelaskan juga apa alasan yang membuat suatu perilaku baik atau buruk untuk dilakukan, yaitu dengan menyoroti pengaruhnya terhadap orang lain. Dalam memberikan penjelasan, orangtua perlu menyesuaikan dengan kemampuan anak memahami. Bila anak masih sangat kecil, hindari memberikan penjelasan yang rumit. Hal yang juga penting untuk diperhatikan, anak lebih bersedia menerima pengajaran dari orangtua apabila orangtua bersikap fleksibel dan mau memahami anak. Oleh karena itu, ketika anak melakukan perilaku yang salah, orangtua sebaiknya tidak hanya menunjukkan kesalahan anak atau menghakimi anak, tapi juga bersedia mendengarkan penjelasan anak dan mencoba memahami alasan yang diberikan anak. Sikap orangtua yang kaku justru akan menimbulkan penolakan anak, atau membuat anak bersikap negatif terhadap pengajaran yang diberikan orangtua.
Waktu terbaik untuk mengajarkan moral biasanya bukan waktu yang terencanakan. Waktu-waktu seperti ini munculnya tiba-tiba. Situasi-situasi yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari bisa dimanfaatkan untuk membahas segi moral. Sebagai contoh, ketika menonton film, ajak anak memikirkan bagaimana kata-kata yang diucapkan seorang tokoh di dalamnya telah membuat tokoh lain merasa tersinggung sampai kemudian menaruh dendam. Anda juga bisa mengajarkan moral dengan menjelaskan kepada anak tentang pertimbangan dan alasan Anda ketika melakukan suatu tindakan atau menempuh cara tertentu.
”Jalan Emas” adalah prinsip moral yang paling sederhana sekaligus paling baik untuk diajarkan. Ajarkan anak untuk melakukan kepada orang lain apa yang ia ingin orang lain lakukan padanya. Ajaran ini akan membantu anak untuk selalu memikirkan bagaimana efek perilakunya pada orang lain.


Memberikan penguatan positif terhadap perilaku anak yang sesuai nilai moral
Berikan perhatian positif ketika anak melakukan perilaku yang baik. Berikan senyuman atau pujian. Katakan bahwa Anda menghargai perilaku baik yang dilakukannya. Perhatian positif yang Anda berikan akan memotivasi anak untuk terus berusaha melakukan apa yang baik.


Memberikan penguatan negatif terhadap perilaku anak yang tidak sesuai dengan nilai moral
Ketika anak melakukan perilaku yang kurang baik, orangtua perlu memberikan teguran. Akan tetapi, jangan hanya mengatakan bahwa apa yang dilakukannya salah, melainkan jelaskan mengapa perilakunya tersebut kurang baik. Ajak anak untuk menyadari bagaimana tindakannya membawa akibat yang kurang menyenangkan bagi orang lain. Bantu anak untuk membayangkan bagaimana perasaannya seandainya ia berada di posisi orang lain yang menjadi korban atas perilakunya. Dengan cara ini, kepekaan anak terhadap orang lain akan berkembang, dan anak akan belajar untuk terlebih dahulu mempertimbangkan bagaimana perilakunya berpengaruh terhadap orang lain sebelum mengambil suatu tindakan.
Hal yang penting diperhatikan orangtua adalah bahwa hukuman fisik sangat tidak tepat digunakan dalam proses mengajarkan moral. Penelitian menemukan bahwa ketika orangtua menggunakan hukuman fisik untuk mendidik moral, anak justru gagal mengembangkan kesadaran moral. Sekalipun hukuman fisik bisa membuat anak melakukan tindakan moral, tindakan moral tersebut mereka lakukan semata-mata karena cemas bahwa diri mereka akan mendapat hukuman bila tidak melakukannya, bukan karena kesadaran bahwa tindakan tersebut membawa kebaikan bagi orang lain. Jadi, anak-anak yang dididik dengan hukuman fisik tersebut berperilaku baik hanya jika berada di hadapan orang lain yang mereka segani atau dengan kata lain menjadi lebih tergantung pada kontrol dari luar, sementara diri mereka sendiri sebenarnya tidak memiliki motivasi dari dalam untuk melakukan perilaku yang baik secara moral. Hukuman fisik dengan kekerasan tidak bisa membuat hati nurani anak menjadi lebih peka.


Mengajarkan empati kepada anak
Ajari anak untuk melihat hal-hal dari sudut pandang orang lain dan memahami bagaimana perasaan orang lain. Misalnya ketika kebetulan melihat berita di televisi tentang penggusuran lahan, ibu bisa berkata, ”Kasihan bapak itu ya. Bapak itu sangat sedih karena rumahnya dihancurkan.”
Orangtua juga bisa mengembangkan kepekaan anak terhadap perasaan orang lain dengan cara mengungkapkan perasaan saat memberikan umpan balik atas perilaku anak. Sebagai contoh, ketika ibu kecewa melihat anaknya yang langsung meninggalkan meja makan untuk pergi menonton televisi tanpa membantu membereskan, ibu bisa berkata kepada anaknya, ”Mama sedih kamu tidak mau ikut membantu mama membereskan piring kotormu, padahal mama sedang capek hari ini.”


Melibatkan anak dalam kesempatan-kesempatan untuk melakukan tindakan moral
Dukung anak untuk membantu orang lain. Katakan kepadanya bagaimana orang lain merasa senang dengan pertolongan kecil yang diberikannya. Setelah itu, bantu ia untuk menyadari juga perasaan-perasaan bahagia yang timbul dalam hatinya karena telah melakukan sesuatu yang baik untuk orang lain tersebut. Dengan demikian, anak menyadari bahwa bertindak moral tidak hanya membuat orang lain senang, melainkan juga membuat hidupnya sendiri indah.


Mendiskusikan topik-topik moral bersama anak
Diskusi untuk membahas berbagai permasalahan dari segi moral bisa meningkatkan pemahaman anak mengenai bagaimana bertindak tepat dalam situasi-situasi tertentu atau bagaimana mencari solusi terbaik yang sesuai dengan nilai-nilai moral. Orangtua bisa mengajak anak mengeluarkan gagasan untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi keluarga, atau sekedar membahas berbagai kejadian sehari-hari yang ditemui di lingkungan. Dalam diskusi, berbagai perilaku atau keputusan, dikupas segi positif dan negatifnya, serta diamati lebih jeli alasan-alasan yang melatarbelakanginya. Diharapkan dengan demikian, anak bisa berpikir dengan lebih bijaksana, dan mengambil keputusan dengan pertimbangan-pertimbangan cermat secara moral.
Hal yang perlu diperhatikan orangtua dalam berdiskusi bersama anak adalah pentingnya menunjukkan keterbukaan terhadap pendapat anak. Sekalipun orangtua mempunyai keinginan untuk langsung mengarahkan anak pada nilai-nilai tertentu, orangtua tetap perlu memperhatikan sudut pandang anak dan menghargai cara berpikir anak. Anak akan lebih bersedia menghargai dan menerima pendapat orangtua apabila ia merasa dihargai pula oleh orangtua. Ketika pendapat anak berbeda dengan pendapat orangtua, orangtua bisa mengemukakan alasan di balik pendapatnya, sehingga dengan demikian, anak bisa mempelajari sudut pandang yang lain, dan cara pandang anak pun menjadi semakin luas.
Tolok ukur keberhasilan penanaman moral
Keberhasilan orangtua dalam mendidik moral anak adalah ketika anak melakukan tindakan moral atas inisiatifnya sendiri dan tanpa pengawasan.


Sumber inspirasi :

Borba, M., 2003.
Ten Tips for Raising Moral Kids. http://sheknows.com/about/look/1950.htm

Berkowitz, M.W., Grych, J.H., 1998.
Fostering Goodness : Teaching Parents to Facilitate Children’s Moral Development. http://parenthood.library.wisc.edu/Berkowitz/Berkowitz.html

Baca lebih lanjut...

Mengajarkan Kecerdasan Finansial kepada Anak


Keterampilan mengelola uang termasuk salah satu keterampilan yang penting dimiliki seseorang untuk mencapai kesejahteraan dalam hidup. Keterampilan ini sesungguhnya sangat tepat bila diajarkan sejak kecil, tentu saja menurut tahap-tahap yang sesuai. Apabila anak sejak kecil dilatih untuk menggunakan uang dengan bijaksana, maka ketika dewasa, ia pun akan membawa kebiasaannya ini.
Mengajari anak keterampilan mengelola uang sejak dini, bisa dilakukan orangtua melalui langkah-langkah berikut :



Mengajarkan konsep milik dan pentingnya menghargai milik
Pertama kali, beri pengertian kepada anak mengenai konsep milik dengan mengajak ia membeda-bedakan antara barang kepunyaannya dengan barang kepunyaan orang lain. Ajari juga anak untuk memelihara barang-barang miliknya dengan baik, misalnya menyingkirkan bukunya ketika akan makan supaya tidak kotor, mencuci mobil mainannya yang jatuh ke dalam selokan, menyimpan bonekanya di lemari, dan lain-lain.



Mengenalkan uang dan kegunaannya
Anda bisa mengajak anak berbelanja di mana ia bisa melihat bahwa Anda mendapatkan barang-barang dengan cara menukarnya dengan uang. Sekali-kali, biarkan anak menyerahkan uang kepada penjual ketika anak membeli jajan.



Melatih anak menggunakan uang secara mandiri
Ketika anak telah mampu berhitung, beri kesempatan anak untuk berbelanja sendiri makanan kecil yang diinginkannya. Tentu saja Anda perlu menyesuaikan jumlah uang yang Anda percayakan kepadanya dengan kemampuan berhitungnya. Sebagai contoh, ketika anak masih duduk di TK, Anda hanya mempercayakan uang pecahan Rp 1.000,00 untuk dipegang atau dibawanya. Ketika anak duduk di SD, Anda bisa membawakan uang Rp 20.000,00 ketika menyuruhnya membeli gula pasir di warung.
Uang saku sangat tepat digunakan untuk melatih anak menggunakan uang secara mandiri dan bijaksana. Beri kebebasan kepada anak untuk menggunakan uang sakunya. Biarkan anak menentukan barang yang ingin dibelinya dan berapa jumlah uang yang dikeluarkannya. Dalam hal ini, orangtua perlu tetap mengamati cara anak menggunakan uangnya, dan memberikan bimbingan ketika anak kurang bijaksana dalam menggunakan uangnya. Semakin dewasa usia anak, orangtua bisa memberikan uang saku untuk rentang waktu yang lebih lama. Misalnya, anak SD kelas 1 diberi uang saku harian, anak SD kelas 5 atau SMP bisa diberi uang saku secara mingguan, sementara anak SMA bisa diberi uang saku secara bulanan. Jangan biasakan memberi tambahan uang saku ketika uang saku anak sudah tidak cukup lagi, karena tujuan memberikan uang saku secara periodik adalah melatih anak mengelola uangnya untuk jangka waktu tertentu. Jika anak kehabisan uang sebelum waktunya dan orangtua tidak memberi tambahan uang saku, selanjutnya anak akan belajar mengatur pengeluarannya dengan lebih bijaksana.


Mengajari anak untuk menabung
Sejak anak memahami konsep uang dan Anda mulai mempercayakan uang saku kepadanya, ajari anak untuk menabung. Ketika anak kecil, Anda bisa membelikannya celengan untuk menjadi tempat menabungnya. Ketika anak duduk di SMP, Anda bisa mengajaknya membuka rekening tabungan di bank. Ajak anak untuk menabung bukan dengan cara menyimpan sisa-sisa uang sakunya, melainkan dengan sengaja mengalokasikan uang sakunya sebelum dibelanjakan. Misalnya saja anak yang diberi uang saku harian, diajak memasukkan sebagian uangnya di celengan sebelum berangkat ke sekolah. Dengan demikian, anak akan belajar tentang kebiasaan menabung yang baik, yaitu disiplin dalam mengalokasikan uang untuk ditabung. Kebiasaan menabung sisa-sisa uang, akan membuat kita menabung dengan kurang maksimal, bahkan sering membuat kita akhirnya gagal menabung, sebab kecenderungan kita adalah menghabiskan uang yang ada di tangan kita.


Mengenalkan anak pada usaha mencari penghasilan
Anak perlu mengerti bahwa uang diperoleh dengan suatu jerih payah. Anda bisa mengajak anak untuk terlibat dalam pekerjaan Anda, misalnya ketika Anda menawarkan suatu produk kepada teman Anda. Akan sangat baik juga bila Anda mendukungnya untuk mencari tambahan uang saku di musim liburan, misalnya dengan memberinya katalog kartu nama dan mengajak ia menawarkan kartu nama itu kepada teman-temannya, bila ia berhasil mendapat pesanan, maka laba penjualan kartu nama itu menjadi miliknya.



Memberikan contoh gaya hidup yang tidak konsumtif
Anak secara alami akan meniru kebiasaan orangtuanya dalam menggunakan uang. Anak yang sering melihat orangtuanya menghambur-hamburkan uang untuk membeli barang mewah yang tidak perlu, akan jadi tidak segan-segan juga untuk mengeluarkan uang demi memuaskan keinginannya. Oleh karena itu, bila Anda ingin anak Anda hemat dan bijaksana dalam mengelola uang, Anda harus memberikan contoh terlebih dahulu. Ketika Anda mengajak anak berbelanja di supermarket, biarkan anak melihat bahwa Anda selalu mempertimbangkan apakah suatu barang memang benar-benar dibutuhkan atau sekedar diinginkan sebelum Anda mengambilnya dan menaruh dalam keranjang belanjaan Anda.



Sumber inspirasi :
Gozali, A., 2006. Cashflow for Woman : Menjadikan Perempuan sebagai Manajer Keuangan Keluarga Paling Top. Jakarta : Hikmah.
Baca lebih lanjut...